Jumat, 25 Maret 2011

tugas cerpen

"Ibu istirahat dong. Jangan banyak pikiran."
"Imas..., Ibu mau ngomong serius sama kamu." Bu Vivi lalu meraih tangan kanan Imas dan menggenggamnya.
Imas lalu duduk di sisi tempat tidur. "Ngomong apa bu?"
"Imas.., kalo Ibu meninggal dan kamu belum kawin juga.., I-ibu akan mati penasaran.."
"Ibu!"
"Jadi Imas..,k-kamu cepet kawin ya, anak ibu tersayang.."
"Tapi bu, Imas harus nikah dengan siapa?"
"Dengan siapa saja. Temanmu kan banyak. Si Khairul, Ismail, Agung, atau mau ibu carikan?Anak teman ibu banyak"
"Ya sudah Imas nurut ibu sajalah yang penting sekarang ibu istirahat dulu ya biar cepet sembuh."
"Tapi kamu janji ya,nak. Kamu harus cepat kawin"
"Iya bu."
Setelah beberapa hari ibu Vivi sudah sembuh dan kembali ke rumah.
Dan pada suatu hari, datang seorang teman ibu Vivi ke rumahnya. Temannya bernama Tarno. Dan Tarno yang bertemu Imas, jatuh cinta dan ingin melamar Imas.
"Imas, bagaimana kamu maukan menikah dengan Pak Tarno?" tanya Bu Vivi.
"Imas tidak mau sama Pak Tarno,bu. Dia kan sudah tua."
"Tapi dia orang berada, Imas. Masa depan kamu dan anak-anak kamu akan terjamin."
"Imas ga mau bu. Dia sudah tua. Dia saja seumuran dengan bapak dan ibu. Masa Imas harus menikah dengan orang seumuran bapak."
"Pokoknya kamu harus mau! Kamu kan sudah janji sama Ibu. Ibu tidak mau tau, Pokoknya ibu dan pak Tarno akan mempersiapkan acara pernikahan kamu bulan depan!"
Hari-hari pun berlalu, Imas setiap hari memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur.
Sudah 5 hari Imas kabur dari rumah. Dan semenjak kemarin sore ia belum makan karena persedian uang nya sudah habis.
Hari ini Imas berniat mencari pekerjaan. Apa saja yang penting halal, pikirnya. Perutnya sudah lapar sekali minta diisi. Saat ia sedang berjalan ia melihat gerobak tukang baso, ia pun berencana bekerja membantu tukang baso.
"Misi bang." ucap Imas.
"Iya ada apa neng?" tanya abang baso.
"Bang, saya mau kerja bantu-bantu cuci piring atau nganterin pesanan bisa tidak?"
"Wah maaf neng. Neng liat sendiri kan? Yang beli baso lagi sepi lagian saya aja jualannya masih pake gerobak belom buka restoran."
"Ga bisa ya bang? Saya ga butuh uang kok, dibayarnya pake semangkok baso aja bang." pinta Imas.
"Maaf ya neng, mending eneng cari ke tempat lain aja."
"Yaudah deh bang."
Imas pun berjalan lagi. Ia sangat lemas, kepalanya pun pusing. Tiba-tiba ketika Imas menyebrang ia tidak memperhatikan jalan.
"Cii...t" hampir saja ia tertabrak mobil. Seorang Ibu keluar dari mobil yang menabraknya.
"Kamu tidak apa-apa nak?"
Imas menatap ibu di hadapannya, tiba-tiba..
"Bruk" Imas pingsan.
Imas membuka matanya. Lalu melihat keadaan sekitarnya.
"Dimana aku?" pikirnya.
Tiba-tiba ibu yang hampir menabraknya berkata "Kamu di rumah saya nak. Tadi kamu pingsan. Apa kamu sudah baikan?"
"Iya makasih bu, saya sudah tidak apa-apa. Saya mau pulang saja" kata Imas sambil beranjak pergi.
Tetapi ibu itu menahannya. Dan menanyakan asal-usulnya. Imas pun menceritakan semuanya pada ibu itu.
Kebetulan sekali ibu itu mempunyai anak laki-laki seumuran Imas, bernama Husen. Imas dan Husen pun saling jatuh cinta.
Beberapa bulan setelah itu dan Imas sudah pulang ke rumahnya. Husen dan keluarganya datang ke rumah Imas untuk melamar Imas. Imas yang memang menyukai Husen pun menerima lamaran itu. Akhirnya Husen dan Imas pun menikah.


Nb. cerpen ini dibaca sama pak dono, terus imas diledekin terus hahahahahahahahahahahahahahahaha rasain imas :p

0 komentar:

Posting Komentar